Rekayasa Keselamatan Jalan
adalah serangkaian usaha dan kegiatan yang dalam rangka mewujudkan dan
memelihara keamanan dan keselamatan. Pelaksanaan kegiatan perekayasaan
keselamatan jalan bertujuan untuk meningkatkan keselamatan jalan khususnya di
lokasi rawan kecelakaan dengan cara mengembangkan
tindakan pencegahan terpadu dengan biaya murah namun manfaatnya banyak bagi
pengguna jalan. Banyak lokasi jalan di Indonesia menjadi tempat terjadinya
sejumlah kecelakaan. Lokasi tersebut dapat berupa persimpangan ataupun tikungan
di suatu ruas jalan.
Banyak ahli teknik di negara
berkembang seperti Indonesia, tidak menyadari peran mereka dalam mengurangi
kecelakaan lalu lintas. Banyak yang beranggapan bahwa kecelakaan lalu lintas
terjadi sepenuhnya karena kesalahan dan kelengahan pemakai jalan. Satu-satunya
cara untuk meningkatkan keselamatan di jalan adalah dengan penegakkan hukum
yang lebih keras oleh Polisi.
Para ahli teknik dalam hal ini
perancang jalan tidak menyadari bahwa banyak kesalahan manusia disebabkan oleh
kegagalan seorang ahli teknik, misalnya : saluran terbuka yang tidak seharusnya
terletak dekat dengan jalan, marka jalan yang salah yang menyebabkan pengguna
jalan bertabrakan depan-depan, rambu lalu lintas yang terhalang, atau ketiadaan
fasilitas penyeberangan untuk anak-anak sekolah di lokasi jalan raya yang padat
lalu lintasnya.
Keselamatan pada infrastruktur
jalan di Indonesia sebenarnya dapat ditingkatkan secara bertahap. Misalnya pada
kecelakaan “keluar jalur” dapat dicegah dengan memperjelas delineasi tikungan.
Selain itu, juga memberikan area bebas samping yang cukup untuk menghindari
tabrakan dengan objek tetap di sisi jalan missal pohon serta tempat bagi
pengendara untuk dapat memulihkan kendali atas kendaraannya.
Di bawah ini adalah beberapa
hal yang dapat dilakukan dalam meningkatkan keselamatan di persimpangan maupun
di ruas jalan (Djoko : 2012) :
Penanganan
|
Faktor Reduksi
Tabrakan
|
Usia Penanganan
|
PERSIMPANGAN
|
||
• Bundaran baru
|
85%
|
20
|
• Modofikasi Bundaran (defleksi pada jalur pendekat)
|
55%
|
20
|
• APILL baru
|
45%
|
20
|
• Mengubah simpang APILL ke bundaran
|
30%
|
20
|
• Dua simpang T berdekatan untuk volume rendah
|
70%
|
20
|
• Memindahkan persimpangan Y
|
85%
|
20
|
• Membuat pulau lalu lintas/median di kawasan perkotaan
|
20%
|
20
|
• Membuat pulau lalu lintas/median di kawasan pedesaan volume rendah
|
45%
|
20
|
• Pengecetan marka garis untuk menjelaskan jenis pengaturan simpang
|
10%
|
5
|
• Memperbaiki jarak pandang (hilangkan/relokasi objek yang menghalangi)
|
50%
|
20
|
• Meningkatkan perambuan
|
30%
|
15
|
• Pita penggaduh pada pendekat
|
30%
|
5
|
• Menempatkan rambu berhenti
|
30%
|
15
|
• Menempatkan rambu-rambu yang diperlukan
|
30%
|
15
|
• Mengubah menjadi rambu berhenti
|
5%
|
15
|
PEKERJAAN PERKERASAN
|
||
• Rekonstruksi jalan
|
25%
|
20
|
• Membuat jalur ganda setempat
|
30%
|
20
|
• Memasang peninggian median
|
30%
|
20
|
• Menambahkan garis median
|
20%
|
20
|
• Melebarkan perkerasan jalan
|
10%
|
20
|
• Membangun lajur menyiap
|
25%
|
20
|
• Menambah lajur
|
10%
|
20
|
• Melebarkan jalan untuk Lajur Berbelok Kanan
|
50%
|
20
|
• Melebarkan jalan untuk Lajur Berbelok Kiri
|
15%
|
20
|
• Pelebaran lajur - 0.3 m
|
5%
|
20
|
• Pelebaran Jalan - 0.6 m
|
12%
|
20
|
• Pelebaran bahu tanpa ikatan tepi - 0.3 m
|
3%
|
20
|
• Pelebaran bahu tanpa ikatan tepi - 0.6 m
|
7%
|
20
|
• Pelebaran bahu tanpa ikatan tepi - 1.0 m
|
10%
|
20
|
• Pelebaran bahu dengan ikatan jalan - 0.3 m
|
4%
|
20
|
• Pelebaran bahu dengan ikatan jalan - 0.6 m
|
8%
|
20
|
• Pelebaran bahu dengan ikatan jalan - 1 m
|
12%
|
20
|
DELINEASI
|
||
• Patok pengarah reflektif
|
30%
|
20
|
• Rambu dini jalan berkelok secara statik
|
20%
|
15
|
• Rambu dini jalan berkelok secara dinamis
|
75%
|
15
|
• Memasang rambu chevron – normal
|
35%
|
15
|
• Memasang rambu chevron - papan elektronik
|
50%
|
15
|
• Pengecetan garis tengah
|
30%
|
5
|
• Pembuatan Garis Tengah “tactile”
|
40%
|
5
|
• Pengecetan garis tepi jalan
|
25%
|
5
|
• Pembuatan Garis Tepi Jalan “tactile”
|
35%
|
5
|
• Deretan barikade
|
30%
|
5
|
• Marka timbul dengan bahan reflektif
|
20%
|
5
|
Sumber : Djoko Muryanto, 2012, Panduan Teknis 1 REKAYASA KESELAMATAN JALAN, Kementerian Pekerjaan
Umum Republik Indonesia, Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar